Aktivis perempuan ini sejak ditinggalkan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengawal pemikiran ayahnya seputar demokrasi, pluralisme, dan toleransi.
Melalui The Wahid Institute, lembaga yang didirikan Gus Dur pada 2004, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau Yenny Wahid berjuang mewujudkan prinsip Gus Dur membangun pemikiran Islam moderat.
Yenny tak berkiprah di ruang wacana. Ia juga berorganisasi. Ia terjun di dunia politik praktis seperti ayahnya. Yenny pernah menjadi staf khusus bidang Komunikasi Politik Presiden Republik Indonesia (RI) Susilo Bambang Yudhoyono.
[Baca juga: Jokowi Makin Semangat Didukung Yenny Wahid dan Gusdurian]
Kisah konflik mewarnai perjalanan politiknya, dimulai saat ia menjadi Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) periode 2005-2010. Namun, di tengah perjalanan, pada 2008, Yenny dipecat Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar.
Ia lalu mendirikan partai politik sendiri bernama Partai Kedaulatan Bangsa (PKB). Dia langsung memimpin sebagai ketua umumnya. Pada 2012, PKB-nya bergabung dengan Partai Indonesia Baru (PIB) pimpinan Kartini Sjahrir. Melebur men jadi Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB). Yenny menduduki kursi ketua umum.
Lahir di Jombang, Jawa Timur, 29 Oktober 1974, jelas berada di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Sama seperti sosok Gus Dur, pola pikirnya nyaris persis dengan ayahnya, getol berlawanan dengan pemikiran mainstream kebanyakan.
Putri pasangan Abdurrahman Wahid dan Sinta Nuriyah ini memiliki seorang kakak, Alisa Wahid. Ada dua adik, Anita Wahid dan Inayah Wahid.
Meski dari keluarga pesantren, Yenni justru berbeda dengan kebanyakan anak-anak kiai lainnya. Dia masuk sekolah umum. Setelah lulus SMA Negeri 28 Jakarta pada 1992, ia menekuni studi komunikasi visual di Universitas Trisakti, Jakarta.
[Baca juga: Prabowo Sedih, Yenny Wahid Tolak Pinangan Jadi Cagub Jatim]
Lulus, ia justru menjadi wartawan sebagai koresponden koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne) dalam kurun 1997 dan 1999. Ia bertugas di daerah konflik sebagai reporter di Timor-Timur dan Aceh.
Tiga tahun berjalan, ia meninggalkan media sebab Gus Dur menjadi presiden RI ke-4 pada 1999. Sejak itu, ke manapun Gus Dur pergi, Yenny mendampingi ayahnya, yang kondisi fisiknya terbatas.
Usai Gus Dur lengser, Yenny kuliah dan memperoleh gelar master Public Administration dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, di bawah beasiswa Mason. Sekembalinya dari Amerika pada 2004, Yenny menjabat direktur Wahid Institute yang saat itu baru berdiri.
DATA DIRI
Nama lengkap: Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid
Tempat lahir: Jombang, Jawa Timur
Tanggal lahir: 29 Oktober 1974
Keluarga
Suami: Dhorir Farisi
Anak: Malica Aurora Madhura dan Amira
Pendidikan
SMA Negeri 28 Jakarta (1992)
S1, Jurusan Visual, Universitas Trisakti, Jakarta
S2, Harvard Kennedy School of Government, AS
Karier
Wartawan (1997-1999)
Direktur The Wahid Institute (mulai 2014)
Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Bidang Komunikasi Politik (2006)
Sekretaris Jenderal DPP PKB (2005-2008)
Ketua Umum DPP Partai Kedaulatan Bangsa (2008-2012)
Ketua Umum DPP PKBIB (2012). []GOOD INDONESIA-RUT
[REDAKSI, IKLAN, & KERJA SAMA: 0813.1703.6688 (WA). Email: [email protected]]









