Peneliti Indonesia Tergabung dalam Ekspedisi Geologi di Antartika

Sangsaka Merah Putih berkibar di Benua Antartika [Foto: suara.com - GOOD INDONESIA]

Antartika adalah benua yang meliputi Kutub Selatan Bumi. Hampir seluruh kawasannya di Lingkar Antartika yang dikelilingi Samudra Pasifik, Atlantik, dan Samudra Hindia.

Benua terluas kelima ini seluas 14 juta kilometer persegi. Hampir dua kali ukuran Australia. Sekitar 98 persen kawasannya ditutupi es yang rata-rata ketebalannya 1,9 kilometer.

Tempat terdingin di muka bumi ini (-89 derajat Celcius) tidak memiliki penduduk tetap. Terdapat antara 1.000 hingga 5.000 orang tinggal sementara di sana, yang sebagian besar peneliti atau ilmuwan. Mereka silih berganti bermukim di zona bebas alias tidak dimiliki negara manapun tersebut.

Nah, peneliti asal Indonesia ternyata pernah beraktivitas di Antartika. Ia adalah Nugroho Imam Setiawan, geolog Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tahap pertama Ekspedisi Antartika itu berlangsung 41 hari awal 2017. Misi penelitian memakai Kapal Shirase yang dipimpin peneliti Antartika asal Jepang. Dalam misi Shirase ini, Nugroho satu-satunya peneliti asal Asia Tenggara.

Lapisan es di atas lautan yang memanas di Benua Antartika [Foto: csiro.au – GOOD INDONESIA]

Salah satu target tim Shirase, yakni mempelajari kondisi geologi di bagian paling selatan Bumi. Memahami kondisi geologi Antartika diharap membantu ilmuwan menguak bagaimana masa depan Bumi.

“Alhamdulillah tidak ada badai. Kami tidak bisa lagi melihat malam karena matahari bersinar 24 jam di sini,” kata Nugroho, seperti dikutip Antara, akhir Desember 2016. Suhu di luar kapal dikatakan rata-rata minus 5 derajat Celcius.

Nugroho menjelaskan Kapal Shirase dilengkapi teknologi pemecah es untuk membersihkan jalur di lautan es.

Tim peneliti Shirase melakukan penelitian tentang struktur batuan Gunung Langhvode. Terletak di Pantai Soya, gunung ini berada di bagian timur laut Antartika. Puncaknya tidak tertutup salju, sehingga struktur lapisan batuan metamorf dapat terlihat jelas dengan menggunakan teropong dan kamera lensa panjang.

Tim, Nugroho menambahkan juga meneliti habitat dan aktivitas 15 anjing laut Waddel betina dan lima anjing laut jantan dengan memasang sensor gerak dan kamera ditubuhnya. Salah satu anjing laut betina konon diberi nama “Gama”, singkatan “Gadjah Mada”.

Hari ini, #GOODpeople bertanya kapan lagi peneliti Indonesia berkiprah mengibarkan Merah Putih di Antartika? []GOOD INDONESIA-ASM

Like & Subscribe: Kanal Youtube GOOD TV

INDONESIA’S LATEST REFERENCE NEWS AGENCY. Redaksi, Iklan, & Kerja Sama: 08111.67.8866 (WA). Email: [email protected]

Thanks for sharing

Komentar Anda?

Please enter your comment!
Please enter your name here